Apa Itu Resesi Ekonomi: Pengertian, Ciri, Indikator, Dampak, dan Cara Mengatasinya

0
768

Resesi didefinisikan sebagai periode penurunan ekonomi sementara di mana aktivitas komersial dan industri melambat, dan umumnya ditandai dengan penurunan PDB dalam dua kuartal berturut-turut.

Arti kata resesi juga dapat diartikan sebagai perlambatan atau kontraksi yang signifikan dalam kegiatan ekonomi (The Economic Times). Secara umum, penurunan besar dalam pengeluaran menyebabkan resesi.

Perlambatan kegiatan ekonomi bisa berlangsung hingga beberapa triwulan, bahkan menghambat pertumbuhan ekonomi. Dalam situasi seperti itu, indikator ekonomi seperti PDB, keuntungan perusahaan, lapangan kerja, dll. Akan menurun dan akan menciptakan kekacauan di seluruh perekonomian.

Untuk menghadapi ancaman, perekonomian umumnya bereaksi dengan melonggarkan kebijakan moneter dengan memasukkan lebih banyak uang ke dalam sistem, yaitu meningkatkan jumlah uang beredar.

Langkah ini dilakukan dengan menurunkan suku bunga. Pengeluaran pemerintah yang meningkat dan pajak yang lebih rendah juga dipandang sebagai solusi yang baik untuk masalah ini.

Menurut Forbes, resesi adalah perlambatan besar dalam aktivitas ekonomi yang berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Para ahli mengatakan resesi terjadi ketika ekonomi suatu negara menderita PDB negatif, peningkatan tingkat pengangguran, penurunan penjualan eceran, dan kontraksi dalam ukuran pendapatan dan industrialisasi dalam jangka waktu yang lama. Jangka waktu.

Resesi dipandang sebagai bagian yang tak terhindarkan dari siklus bisnis atau tingkat ekspansi dan kontraksi reguler yang terjadi dalam perekonomian suatu negara.

Apa itu resesi ekonomi?

Secara sederhana, resesi ekonomi dapat dipahami sebagai kelesuan ekonomi atau  ekonomi merosot. Sesuai dengan namanya yang artinya lamban atau lesu, resesi berujung pada penurunan serentak di semua aktivitas sektor ekonomi. Misalnya seperti; lapangan pekerjaan, investasi, dan keuntungan bisnis.

Resesi ekonomi berdampak domino pada setiap kegiatan ekonomi tersebut. Ketika investasi menurun, tingkat produksi produk atau komoditas juga akan menurun.

Dampaknya akan semakin tinggi pengangguran akibat PHK. Selain itu, kondisi ini menyebabkan penurunan daya beli individu yang berdampak pada penurunan laba perusahaan.

Resesi ekonomi seringkali diindikasikan dengan penurunan harga yang disebut deflasi, atau sebaliknya, inflasi dimana harga produk rumah tangga atau bahan baku meningkat tajam.

Jika tidak segera diatasi, resesi akan berlangsung lama dan berubah menjadi depresi ekonomi yang dapat mengakibatkan kebangkrutan ekonomi atau keruntuhan ekonomi. Jika perekonomian suatu negara mencapai tahap ini, maka akan sulit untuk pulih.

Kapan suatu negara dikatakan sedang memasuki resesi?

Dalam sejarah perekonomian global, banyak negara telah melewati masa-masa sulit dan mengalami resesi.

  • Krisis ekonomi yang melanda Uni Eropa pada 2008-2009 menyebabkan sedikitnya 17 negara di kawasan memasuki resesi, antara lain Yunani, Prancis, Portugal, Republik Siprus, Spanyol, Irlandia, dan Italia.
  • Tahun 2010, Thailand dilanda resesi. Negeri yang dikenal sebagai Negeri Gajah Putih itu mengalami tingkat pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kuartal berturut-turut. Ini karena PDB negara yang terus menurun.
  • Rusia yang dikenal sebagai negara adidaya yang bersaing dengan Amerika Serikat sepanjang 2015, tidak hanya berdampak pada negara berkembang, tetapi juga mengalami resesi ekonomi di Rusia.

    Resesi di negara ini disebabkan pencapaian PDB yang rendah karena pasar modal global menolak perusahaan dari Rusia. Akibatnya tingkat inflasi cukup tinggi bahkan negara mengalami defisit anggaran.

Dari ilustrasi di atas terlihat bahwa resesi ekonomi dipengaruhi oleh banyak faktor. Negara miskin dan berkembang tidak hanya terpengaruh oleh resesi, tetapi juga negara maju secara ekonomi.

Bahkan dengan kondisi ekonomi Indonesia di tahun 2020, banyak pengamat ekonomi yang memperkirakan Indonesia juga sedang menuju resesi. Nilai impor lebih tinggi dari ekspor, harga bahan baku semakin tinggi, biaya listrik dan bahan bakar minyak dan pajak, yang mana kita tidak ingin terjadi kenaikan dari salah satunya.

Indikator tersebut menjadi dasar prediksi bahwa Indonesia sedang memasuki gerbang resesi ekonomi. Apalagi, tingkat daya beli masyarakat Indonesia saat ini sedang menurun.

Meskipun resesi di Indonesia masih bersifat prediktif dan kontroversial. Di satu sisi, pemerintah mengklaim bahwa pertumbuhan ekonomi tetap stabil di angka 5% dan kondisi ekonomi Indonesia tetap baik, padahal utang luar negeri meningkat signifikan. Dan di sisi lain, data dan situasi aktual di lapangan tidak tepat. Masyarakat di berbagai daerah mengeluhkan mahalnya biaya hidup.

Indikator resesi ekonomi

Lantas apa indikatornya ketika suatu negara memasuki resesi ekonomi? Suatu negara dikatakan sedang memasuki resesi, jika muncul indikator-indikator berikut ini.

1. Ada ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi

Perekonomian tidak jauh dari produksi dan konsumsi. Keseimbangan antara keduanya membentuk dasar pertumbuhan ekonomi. Ketika produksi dan konsumsi tidak berada dalam kondisi seimbang maka akan timbul permasalahan dalam siklus bisnis.

Jika produksi yang lebih tinggi tidak mengikuti konsumsi yang tinggi, maka akan menyebabkan penumpukan stok barang. Sebaliknya, jika produksi rendah sedangkan konsumsi tinggi, permintaan dalam negeri tidak akan mencukupi, sehingga impor harus dilakukan. Hal ini akan menyebabkan penurunan laba perusahaan yang akan berdampak pada melemahnya pasar modal.

2. Pertumbuhan ekonomi yang melambat selama dua kuartal berturut-turut

Dalam perekonomian global, pertumbuhan ekonomi digunakan sebagai ukuran untuk menentukan apakah kondisi ekonomi suatu negara baik atau buruk. Jika pertumbuhan ekonomi meningkat secara signifikan, ini berarti negara tersebut berada pada posisi ekonomi yang kuat.

Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi ini menggunakan acuan GDP, yaitu penjumlahan konsumsi, belanja publik, investasi, dan ekspor dikurangi impor. Jika PDB turun dari satu tahun ke tahun berikutnya, maka pertumbuhan ekonomi negara tersebut pasti sedang melambat atau stagnan.

3. Nilai impornya jauh lebih tinggi dari nilai ekspor

Dalam perdagangan internasional, kegiatan impor dan ekspor sangat normal. Selain menjalin kerja sama ekonomi, salah satu tujuan impor dan ekspor adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kedua negara.

Negara yang kekurangan produk dasar karena tidak dapat memproduksinya sendiri dapat mengimpor dari negara lain. Sebaliknya, negara dengan surplus produksi dapat mengekspor ke negara yang membutuhkan komoditas tersebut.

Namun, jika impor dan ekspor tidak stabil, hal tersebut dapat berdampak pada perekonomian negara. Nilai impor yang jauh lebih tinggi dari nilai ekspor menjadi ancaman bagi defisit anggaran negara.

4. Terjadi banyak inflasi atau deflasi

Untuk alasan dan kepentingan tertentu, inflasi diperlukan. Namun inflasi yang sangat tinggi justru memperumit kondisi perekonomian, karena harga bahan baku yang melambung tinggi dan tidak bisa diakses oleh semua kalangan, terutama mereka yang tergolong golongan ekonomi menengah ke bawah.

Kondisi perekonomian akan semakin parah jika inflasi tidak dibarengi dengan daya beli yang tinggi. Inflasi tidak hanya berpengaruh pada resesi tetapi juga deflasi. Penurunan tajam harga komoditas dapat mempengaruhi pendapatan dan laba perusahaan yang lebih rendah. Akibatnya, biaya produksi tidak tercakup sehingga volume produksi menjadi rendah.

Tingkat pengangguran tinggi

Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang berperan penting dalam menggerakkan perekonomian. Jika suatu negara tidak dapat menciptakan lapangan kerja bagi tenaga kerja lokalnya, maka jelas tingkat pengangguran di negara tersebut akan tinggi. Bahayanya, daya beli yang rendah dapat memicu kejahatan untuk memenuhi kebutuhan.

Tidak peduli seberapa kuat ekonomi suatu negara, ia mungkin memiliki kelemahan. Ketika titik lemah ini tercapai, mau tidak mau atau tidak mau, maka negara akan mengalami perlambatan dan penurunan yang disebut resesi ekonomi.

Untuk itu, penting bagi setiap negara untuk memantau laju pertumbuhan ekonominya setiap triwulan, sehingga dapat segera diambil kebijakan ekonomi yang dapat mengantisipasi bahkan mengatasi jika menemui kendala.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini